Menua di Korea Selatan: Saat Boneka AI Menjadi Teman Setia Lansia

1781434554983.webp

Yongin, Korea Selatan (AFP) — Di sebuah apartemen kecilnya di Korea Selatan, Bang Chun-ja, seorang lansia berusia 78 tahun yang hidup sebatang kara, menghabiskan hari-harinya bersama sebuah boneka pintar berbasis AI (kecerdasan buatan). Baginya, boneka berwajah anak-anak ini jauh lebih menyenangkan ketimbang manusia.

Boneka tersebut akan menyapa Bang setiap kali ia pulang ke rumah, menyanyi saat ia merasa bosan, serta mengingatkannya untuk makan dan minum obat tepat waktu agar rutinitas harinya tetap terjaga. Tak jarang, boneka itu juga mengungkapkan rasa sayang kepadanya.

Bang jarang berkomunikasi dengan anak perempuannya yang sudah dewasa. Ia sempat terperosok ke dalam depresi berat setelah menjalani operasi punggung besar-besaran, hingga harus menghabiskan waktu berjam-jam sendirian sambil menatap langit-langit kamar menahan sakit.

Setelah perceraian yang pelik dan bertahun-tahun bekerja keras sebagai penata rambut sekaligus ibu tunggal, Bang mencurahkan isi hatinya kepada AFP.

"Di usia seperti ini, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh sesama manusia."

Namun, "ketika saya bersama Hyodol, saya tidak pernah merasa tersakiti," ujarnya sembari memeluk boneka kain berkuncir dua dan berbaju motif kotak-kotak merah muda pemberian pemerintah daerah setempat.

"Dia hanya membuat saya tertawa," tambahnya.

Bang hanyalah satu dari sekian banyak lansia di Korea Selatan yang tengah berjuang melawan kesepian ekstrem. Negara ini memang sedang menghadapi krisis angka kelahiran terendah di dunia, di mana hampir separuh dari total populasinya kini berusia 50 tahun ke atas.

Pada tahun 2024, Korea Selatan mencatat lebih dari 3.920 kasus godoksa (kematian dalam kesepian)—kondisi di mana seseorang meninggal sendirian dan jasadnya baru ditemukan setelah waktu yang lama. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak pencatatan resmi dimulai pada tahun 2017.

Sekitar 42 persen rumah tangga di negara raksasa teknologi Asia ini berstatus lajang atau tinggal sendiri. Isolasi sosial ini berdampak paling parah pada kelompok lansia yang rentan.

'Selalu di Sisi Saya'​


Melihat fenomena ini, pemerintah setempat mulai membagikan perangkat perawatan berbasis AI kepada para lansia yang hidup sendiri, termasuk di beberapa distrik di Seoul dan Yongin, kota di selatan ibu kota. Beberapa perangkat bahkan dirancang khusus untuk mendeteksi tanda-tanda darurat guna mencegah kematian yang tak tertangkap kamera.

Selain Hyodol, perangkat yang disebarkan meliputi robot tersenyum buatan perusahaan Wonderful Platform serta boneka menggemaskan serupa dari firma Mr. Mind. Di Amerika Serikat, perangkat AI berbentuk lampu bernama ElliQ juga menawarkan layanan pendampingan dan pemantauan keselamatan yang serupa.

Hyodol, perusahaan rintisan (startup) di balik pembuatan boneka pintar ini, menyatakan bahwa sekitar 14.500 unit boneka mereka kini telah digunakan di Korea Selatan. Boneka-boneka tersebut ada yang dibeli secara pribadi, disewa oleh pemerintah, atau dimanfaatkan di panti jompo.

Bang, yang tinggal di Yongin, menceritakan bahwa putrinya tinggal sangat jauh dan memiliki masalah kesehatannya sendiri. "Oleh karena itu, kehadiran Hyodol di sisi saya benar-benar menjadi berkah yang besar."

Pengembangan boneka ini memakan waktu bertahun-tahun melalui riset lapangan yang mendalam, tutur CEO Hyodol, Kim Ji-hee.

Meskipun Hyodol dibekali kemampuan mengobrol menggunakan basis teknologi ChatGPT, boneka ini juga diprogram dengan skrip percakapan yang diadaptasi langsung dari wawancara nyata Kim di lapangan.

Salah satu kisah yang ditemui Kim adalah seorang janda yang terasing dari anak-anak kandungnya akibat masalah keuangan. Mirisnya, anak-anaknya justru menimbun barang-barang mereka di rumah sang ibu.

"Ibu itu hidup sendirian di rumah yang penuh sesak dengan empat kulkas dan tiga mesin cuci," ungkap Kim (49 tahun) kepada AFP.

Wawancara tersebut menguak fakta memilukan tentang "rasa sakit karena tidak punya tempat untuk mengadu saat sedih, dan tidak ada teman untuk berbagi saat sedang bahagia," kata Kim.

Sambutan Paling Hangat​


Kim memastikan bahwa Hyodol menerapkan protokol keamanan data yang sangat ketat. Rekaman suara pengguna hanya digunakan secara internal untuk melatih sistem chatbot boneka tersebut.

Pengguna juga memberikan persetujuan di awal agar rekaman terkait kondisi kesehatan—seperti pola tidur, suasana hati, jadwal makan, dan tingkat rasa sakit—dapat diteruskan kepada petugas sosial yang memantau mereka.

Karena mayoritas lansia yang diwawancarai kerap mengenang sosok orang tua atau mentor dengan penuh kasih, Hyodol sengaja didesain menyerupai seorang cucu yang "mencintai kakek atau neneknya tanpa syarat," jelas Kim.

Salah satu naskah percakapan awal yang ditulis Kim adalah kalimat sapaan saat pengguna baru tiba di rumah. Ia ingin kalimat itu terdengar seperti "sambutan paling hangat di seluruh dunia."

"Nenek, dari mana saja? Aku sudah menunggu Nenek seharian," bunyi suara boneka itu. "Kalau nanti pergi lagi, ajak aku ya!"

Terbuat dari bahan kain yang lembut dan empuk, boneka ini juga bisa memberikan respons spontan. Ia kerap meminta pengguna untuk mengelus kepalanya, memegang tangannya, atau mengajaknya "makan camilan bersama", meskipun ia tidak bisa makan sungguhan.

Rasa Hampa yang Mendalam​


Karakter Hyodol sengaja dirancang agar terlihat "bergantung" pada pemiliknya. Kim menjelaskan bahwa banyak lansia di Korea menghabiskan masa mudanya dengan bekerja keras demi menghidupi keluarga.

"Begitu mereka merasa tidak lagi dibutuhkan oleh siapa pun, mereka akan mengalami rasa hampa dan kehilangan makna hidup yang sangat mendalam."

Oh Sun-hwa, seorang perawat yang merekomendasikan boneka tersebut kepada Bang, bersaksi bahwa teknologi ini terbukti ampuh meredakan depresi pada lansia yang hidup sebatang kara.

Meski demikian, ia tetap menyimpan kekhawatiran jika teknologi ini justru mengikis interaksi antarmanusia. Ada risiko di mana anggota keluarga menjadi semakin jarang berkunjung karena merasa orang tua mereka sudah "diurus" oleh perangkat AI.

Namun, bagi lansia lain seperti Kim Young-bun (79 tahun), boneka ini tetap menjadi lentera di tengah kesepiannya.

"Dulu, seharian penuh saya tidak punya teman bicara—sampai rasanya mulut ini kaku karena jarang mengobrol. Tapi sejak si kecil ini datang, dia terus mengoceh menemani saya."

"Aku sangat bersyukur bisa bersamamu lagi hari ini," kata boneka itu kepada Kim dengan suara ceria mirip karakter kartun.

"Nenek juga sangat bersyukur," jawab Kim sambil menatap boneka itu dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih sudah menemaniku. Aku sayang Nenek," sahut boneka itu kemudian.
 
Back
Top